Indonesia berlomba untuk memvaksinasi sebanyak mungkin kelompok rentan untuk COVID-19. Pada awalnya, kelompok prioritas vaksinasi COVID-19 dibagi menjadi 4 kriteria, yaitu Petugas kesehatan, petugas layanan publik, masyarakat rentan, dan pelaku masyarakat dalam perekonomian yang berada pada kelompok umur 18-59 tahun. Lansia belum termasuk dalam kelompok prioritas karena pertimbangan keamanan vaksin untuk kelompok rentan ini.

Namun, pada awal Februari, setelah merampungkan sebagian besar imunisasi untuk petugas kesehatan, pemerintah memutuskan untuk memprioritaskan vaksinasi COVID-19 pada kelompok lansia berusia 60 tahun ke atas.

Alasan lansia harus diutamakan untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19

Sebelumnya, pemerintah memutuskan untuk tidak memasukkan lansia sebagai penerima prioritas pemberian vaksin COVID-19 karena pertimbangan keamanan vaksin.

Padahal beberapa negara lain telah menggunakan vaksin Sinovac untuk imunisasi COVID-19 pada lansia dan belum ada laporan dampak serius yang terjadi.

Banyak negara juga memprioritaskan kelompok lanjut usia untuk divaksinasi karena dianggap kelompok paling rentan terhadap COVID-19. Orang tua menyumbang setidaknya 47% dari jumlah kematian akibat COVID-19.

Masuknya lansia sebagai kelompok prioritas imunisasi COVID-19 bertujuan untuk mengurangi keparahan gejala, mengurangi beban rumah sakit, dan menurunkan angka kematian akibat COVID-19.

Berbagai kritik dan saran dari para ahli akhirnya mendorong pemerintah untuk melakukan studi keamanan vaksin Sinovac bagi lansia. Pemerintah mencermati hasil uji klinis vaksin Sinovac fase 3 yang dilakukan di luar Indonesia termasuk pada kelompok lansia.

Hasil uji klinis vaksin COVID-19 Sinovac pada 400 lansia di China dan 600 lansia di Brazil menunjukkan bahwa vaksin Sinovac mampu menumbuhkan antibodi dan tidak memiliki efek samping negatif. Itu artinya imunisasi COVID-19 menggunakan Vaksin sinovac terbukti aman diberikan kepada lansia.

Dengan bukti keamanan, pemerintah, lewat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi mengeluarkan izin penggunaan vaksin COVID-19 Sinovac untuk kelompok lanjut usia pada Minggu (7/2/2021).

"Pada 5 Februari 2021 POM mengeluarkan EUA (Otorisasi Penggunaan Darurat) Vaksin CoronaVac (produksi Sinovac) untuk usia 60 tahun ke atas. Diberikan dengan 2 dosis suntikan vaksin yang diberikan dengan interval 28 hari, ”ujar Kepala BPOM Penny K Lukito.

Vaksinasi lansia dimulai dari petugas kesehatan lansia pada Senin (8/2/2021) dan dilanjutkan dengan kelompok lansia non tenaga kesehatan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait vaksinasi lansia

Vaksin yang diberikan kepada lansia adalah vaksin Sinovac dengan kandungan yang sama dengan yang diberikan pada kelompok lain. Namun, terdapat perbedaan interval antara dosis pertama dan dosis kedua.

Pada kelompok umum, dosis 1 dan dosis dua berjarak 14 hari, pada lansia interval diperpanjang menjadi 28 hari. Persyaratan kesehatan Juga tidak jauh berbeda, hanya saja proses skrining diperketat mengingat lansia cenderung memiliki beberapa penyakit penyerta dibandingkan kelompok usia yang lebih muda.

Tes tambahan perlu dilakukan jika lansia memiliki beberapa kondisi fisik.

  1. Kesulitan menaiki 10 anak tangga.
  2. Mengalami penurunan aktivitas fisik atau sering kelelahan.
  3. Memiliki 5 dari 11 kondisi penyakit, hipertensi, diabetes, kanker selain kanker kulit ringan, penyakit paru-paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke, dan penyakit ginjal.
  4. Kesulitan berjalan kurang lebih 100-200 meter.
  5. Pernah mengalami penurunan berat badan yang signifikan dalam setahun terakhir.

Persyaratan kondisi kesehatan umum peserta vaksinasi

Sebelum melakukan vaksinasi, penting agar tubuh peserta dalam keadaan stabil atau tidak sakit.

Hal tersebut tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit nomor HK.02.02 / 4/4/2021 tentang Pedoman Teknis Vaksinasi Dalam Rangka Pandemi COVID-19.

  1. Tidak pernah terinfeksi COVID-19.
  2. Tidak masuk status kontak dekat dengan terduga atau pasien COVID-19.
  3. Suhu tubuh di bawah 37,5 ° C.
  4. Tekanan darah stabil, di bawah 140/90 mmHg.
  5. Tidak hamil, menyusui, mengalami gejala ISPA dalam tujuh hari terakhir, memiliki riwayat alergi parah, penyakit ginjal, rematik, dan nyeri saluran cerna kronis.
  6. Bagi penderita diabetes melitus tipe 2, kadar gula darah harus dikontrol, yaitu di bawah 58 mmol / mol atau 7,5%.
  7. Untuk orang dengan HIV, viral load tidak terdeteksi, dan jumlah CD4 (ukuran sistem kekebalan) harus di atas 200.
  8. Tidak memiliki penyakit paru-paru (Asma, PPOK, atau TBC). Pasien TB bisa divaksinasi jika sudah memakai obat anti tuberkulosis paling sedikit selama dua minggu.

Berikut alur dan pemeriksaan yang dilakukan pada hari H vaksinasi COVID-19.

  1. Isi registrasi dan verifikasi data.
  2. Mengisi daftar periksa kondisi kesehatan dan penyakit penyerta, riwayat, dan edukasi tentang vaksin COVID-19.
  3. Periksa suhunya.
  4. Periksa tekanan darah.
  5. Pengiriman vaksin.
  6. Menunggu 30 menit untuk mengantisipasi jika ada KIPI (pasca insiden tindak lanjut imunisasi).
  7. Memberikan kartu vaksinasi.
  8. Menunggu jadwal penyuntikan dosis vaksin kedua.

Selain pemeriksaan suhu tubuh dan tekanan darah, semua pemeriksaan kondisi kesehatan serta pemeriksaan kestabilan komorbiditas peserta dilakukan secara mandiri kepada dokter spesialis masing-masing.

Postingan Mengapa Lansia Diprioritaskan Mendapatkan Vaksin Covid-19 Sejak Dini? muncul pertama kali di Hello Sehat.

Baca:  OLAHRAGA DAN POLA DIET SESUAI SELAMA COVID19 / KORONA SEHINGGA BERAT BADAN TIDAK BERLANGSUNG KARENA HANYA DI RUMAH